Selasa, 01 September 2015

Kisah Nyata Wanita Karier






Asalamualaikum sahabat Nona ,,, baca ya jangan malas membaca,, semoga dpt kalian jadikn Inspirasi... !!


Sore itu sembari menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar. Kulihat seseorang yang berpakaian rapi, berjilbab dan tertutup sedang duduk disamping masjid. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang juga. Aku mencoba menegurnya dan duduk disampingnya, mengucapkan salam, sembari berkenalan.
Dan akhirnya pembicaraan sampai pula pada pertanyaan itu. “Anti sudah menikah?”.
“Belum ”, jawabku datar.
Kemudian wanita berjubah panjang (Akhwat) itu bertanya lagi “kenapa?”
Pertanyaan yang hanya bisa ku jawab dengan senyuman. Ingin kujawab karena masih hendak melanjutkan pendidikan, tapi rasanya itu bukan alasan.
“Mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya.
“Menunggu suami” jawabnya pendek.
Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya-tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya “Mbak kerja di mana?”
Entah keyakinan apa yang membuatku demikian yakin jika mbak ini memang seorang wanita pekerja, padahal setahu ku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah PINTU AWAL kita wanita karir yang bisa membuat kita lebih hormat pada suami” jawabnya tegas.
Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Saudariku, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah hanya ingin didatangi oleh laki-laki yang baik-baik dan sholeh saja.
“Saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7 juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari dan es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya. Kamu tahu kenapa ?
Waktu itu jam 7 malam, suami saya menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Setibanya dirumah, mungkin hanya istirahat yang terlintas dibenak kami wanita karir. Ya, Saya akui saya sungguh capek sekali ukhty. Dan kebetulan saat itu suami juga bilang jika dia masuk angin dan kepalanya pusing. Celakanya rasa pusing itu juga menyerang saya. Berbeda dengan saya, suami saya hanya minta diambilkan air putih untuk minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendiri lah !!”.
Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang. Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan pulasnya.
Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya (kami memang berkomitmen untuk tidak memiliki khodimah)? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci. Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga.
Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi demam, tinggi sekali panasnya. Saya teringat perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air putih saja saya membantahnya. Air mata ini menetes, air mata karena telah melupakan hak-hak suami saya.”
Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati ini merinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yang di usapnya.
“Kamu tahu berapa gaji suami saya? Sangat berbeda jauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700 rb/bulan. Sepersepuluh dari gaji saya sebulan. Malam itu saya benar-benar merasa sangat durhaka pada suami saya.
Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya dengan ikhlas dari lubuk hatinya. Setiap kali memberikan hasil jualannya, ia selalu berkata “Umi, ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah-mudahan Umi ridho”, begitulah katanya. Saat itu saya baru merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong dan durhaka pada nafkah yang diberikan suami saya, dan saya yakin hampir tidak ada wanita karir yang selamat dari fitnah ini”
“Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami. Wanita itu sering begitu susah jika tanpa harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya” Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara.
“Beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua, dan saudara-saudara saya justru tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Sesuai dugaan saya, mereka malah membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan yang lain.”
Aku masih terdiam, bisu mendengar keluh kesahnya. Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan.
“Kak, bukankah kita harus memikirkan masa depan ? Kita kerja juga kan untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini mahal. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah.
Salah kakak juga sih, kalo mau jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamar kakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang ingin membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali mengalir, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat.
“anti tau, saya hanya bisa menangis saat itu. Saya menangis bukan karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, Demi Allah bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya sudah DIPANDANG RENDAH olehnya.
Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya ?
Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan ?
Bagaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendah di hadapannya hanya karena sebuah pekerjaaan ?
Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suami saya.
Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya.
Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya.
Saya berharap dengan begitu saya tak lagi membantah perintah suami saya. Mudah-mudahan saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga dengan pekerjaan suami saya ukhty, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan seperti itu.
Disaat kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tetapi suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya.
Suatu saat jika anti mendapatkan suami seperti suami saya, anti tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anti pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku. Mengambil tas laptopnya, bergegas ingin meninggalkanku.
Kulihat dari kejauhan seorang laki-laki dengan menggunakan sepeda motor butut mendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, wanita itu meninggalkanku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.
Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling berkesan dalam hidupku. Pelajaran yang membuatku menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..Subhanallah..Walhamdulillah..Wa Laa ilaaha illallah…Allahu Akbar
Semoga pekerjaan, harta dan kekayaan tak pernah menghalangimu untuk tidak menerima pinangan dari laki-laki yang baik agamanya.. (womags.com)

Senin, 17 Agustus 2015

PEYEMPUAN ( PEREMPUAN )

Perempuan bisa memainkan peran, menikah, dan menjadi istri serta ibu dari anak-anaknya meski di hatinya menyimpan cinta kekasih idaman”

“Penelitian sudah menunjukkan kalau perempuan itu adalah makhluk yang menggunakan perasaan secara dominan. Sedangkan laki-laki adalah makhluk yang selalu menggunakan logikanya. Namun, bukan berarti seorang perempuan tidak bisa menggunakan logika dan laki-laki tidak memiliki perasaan.
Inilah kelebihan dari seorang perempuan –peka dan lembut. Seorang perempuan bisa memiliki firasat terhadap orang-orang yang dicintainya. Apabila orang yang dicintainya berada dalam bahaya, terkena musibah ataupun berbuat macam-macam seperti berselingkuh maka perempuan akan merasakannya. Apakah firasat-firasat itu nyata dan benar-benar terjadi? Makin kuat perasaan dari perempuan tersebut maka makin mudah baginya untuk mendapatkan firasat mengenai orang-orang terdekatnya. Trust me. ^_^”

“Untuk apa ganteng tapi suka nempeleng? Untuk apa banyak harta kalau selalu membuat jatuh air mata?
Kamu mungkin berpikir dan berharap kalau pasanganmu akan berubah saat kalian membina rumah tangga kelak, but I don’t think so! Aku memang tidak begitu percaya jika kesempatan hanya datang satu kali, mungkin kesempatan akan datang berkali-kali. Tapi, apa mungkin kamu masih memberikan kesempatan untuk sebuah kesalahan yang dilakukan berulang-ulang?. 
INGAT!!! Keselamatanmu dan kesehatan jiwamu yang menjadi taruhannya. Pikir pakai LOGIKA dong, jangan MAIN HATI terus.”

“Ditinggalkan pacar? Tidak perlu takut. Rawat dirimu dan buat dirimu menjadi lebih bersinar dari sebelumnya. Pastikan dia menyesal telah menyia-nyiakanmu.”

“Untuk apa memikirkan orang yang belum tentu memikirkan kamu? Untuk apa berharap pada seseorang yang belum tentu mengharapkan kamu? KAMU TELAH KEHILANGAN DIRIMU.”

“Harapanmu hanya pantas untuk orang yang menghargai kamu! Air matamu adalah berlian dan hanya pantas jatuh untuk orang yang menganggapmu berlian!”

“AKU BERHARGA DAN MENCINTAI DIRIKU SENDIRI”

"Thanks atas inspirasinya buat mbak Lutfi  " 

Salam Nona Marleni

Twiter : @Marlenilay
Fb : Marlenipatra@facebook.com ( Nona Marleni )
Line : nonamarleni
Instagram : Nona_Marleni

Kamis, 13 Agustus 2015

Rahasia Kekuatan Cium Tangan dan Kening


cium-kening Tahukah kawan.. Kenapa lelaki musti mencium kening istri dan lalu…. istri musti mencium tangan suaminya?

Sedikit penjelasan ini akan membuat kehidupan rumah tangga kita semakin harmonis dalam dekapan keimanan nan ketaatan. :)


Sebagai insan beriman, tentu apa yang kita lakukan adalah untuk menyemai iman dalam rumah tangga dan memelihara benih-benih cinta antara kita dan pasangan kita. Dan semua itu didasari pada nash-nash yang sahih demi meneladani sunnah-sunnah dari rasulullaah ﷺ meraih amal shalih mereguk keberkahan. Beliau pernah berpesan bahwa sebaik-baik kamu adalah yang paling lembut kepada istrimu.

Pesan yang mendalam lainnya tentang pola ketaatan seorang istri kepada suami adalah “sekiranya aku” kata rasulullaah ﷺ penuh kasih sayang “(boleh) menyuruh manusia menyembah manusia niscaya aku akan menyuruh (para) istri menyembah suaminya”. Ucapan beliau shahih diriwayatkan oleh Abu Daud.

Nah, terlepas dari itu semua sejatinya apa yang diberikan kepada pasangan kita adalah ungkapan-ungkapan terbaik. Walau kadang kurang tepat sehingga menimbulkan percikan rajuk, cemburu, tetes airmata. Tapi yakinlah pada saat itu pasangan kita sedang berlaku yang terbaik untuk kita.

Tak hanya melisan, namun menerjemahkan simbol kasih sayangnya dengan sentuhan, dekapan, cecumbu, ciuman, pandangan, bahkan hanya sekedar senyuman. Dari sisi psikologis seorang suami dan istri tentu aktifitas-aktifitas ini sangatlah penting.

Mencium pasangan. Selain memang sunnah karena nabi pernah melakukannya menurut ummul mukmin Aisyah, bagi kami para suami…  mencium kening istri adalah cara mendapatkan semangat & ketenangan.

Ia juga bermakna tanda ketundukkan suami kepada rabbNya karena ia telah mengambil sumpah atas namaNya untuk menghalalkan istri dan siap membimbing dalam bingkai ketaatan. Mungkin, mencium kening adalah bentuk ungkapan kasih sayang kami yang tak terwakilkan oleh kata-kata. *soo sweet 😉

Nah untuk para istri, mencium punggung tangan suami adalah cara ia mendapatkan kekuatan.Tak berlebihan bahwa ini pun adalah bentuk sikap tunduk dengan penuh keridhaan menjemput ridhaNya dalam bingkai sakinah (ketenangan) mawaddah (cinta yang membuncah) warahmah (kasih sayang).

Mengecup kening istri atau mencium tangan suami, hakikatnya adalah sebuah simbol dari satu hal paling mahal dalam hubungan suami isteri, yaitu “saling percaya”. Suami mempercayakan kepada istri untuk menjadi madrasatul ula bagi putra putrinya kelak.

Dan Istri mempercayakan amanah bimbingan kepada sang nahkoda agar bahtera rumah tangganya selamat berlayar hingga ke jannah. Hendaknya masing-masing kita memaksimalkan kepercayaan dan amanah tersebut dengan sebaik-baik menyiapkan serta menempuhnya.

Akhirnya.. dalam berumah tangga, kita belajar menjaga. Menjaga hati, menjaga lisan, menjaga mata, menjaga keluarga untuk kita jauhkan sejauh-jauhnya dari api neraka. kuu anfusakum wa ahlikum naara.. dan mendekat-dekat kan sedekat-dekatnya kepada Arsyil Rahmaan (Arsy nya Yang Maha Pengasih). 

Bagi para pasangan suami istri, yang belum pernah melaksanakan yuk coba praktikkan. Yang sebelumnya sudah dikerjakan tapi no heart feeling, plis ya coba maknai kedalaman hikmah dan siratan pesan-pesan di balik cium kening dan cium tangan ini.

Kami yakin akan ada perbedaan dzauq (daya rasa) yang diinspirasikan oleh Yaa Rahmaan kepada qalbu kita. Degub qalb(jantung) hati akan menjadi bukti. Dan yakinlah ini adalah salah satu nikmat terbesar bagi orang beriman… yakni istri(pasangan) yang mukmin yang membantunya dalam (ketaatan) beriman. Selamat mencoba! 😉

Bagi yang belum punya pasangan halal? nikaah duluuu yaa… Ayo yang sudah nikah, silahkan disebarkan ke temannya yang lain.

salam senyum dari Nona Marleni

😉

twiter : marlenilay@yahoo.co.id

instagrm: nona_marleni

Line : nonamarleni 

Fb : marlenipatra@facebook.com

Senin, 12 Januari 2015

Coretan Saya

ROMANSA SENJA


Hujan adalah alunan melody jiwa,
bait lagu cinta yang menyatukan rasa
mengobarkan angan menggebu
yang mengikat kau dan aku

Hujan bernyanyi dengan merdunya,
mesra, melagukan nada bersyairkan asa
mengiringi rasa yang bergelora
menghentak dalam dada

Hujan tersenyum membelai kalbu,
sendu, menjamah cerita kau dan aku
tentang rasa yang menggebu
bertaburan bilur rindu....


Ku alun rindu berkabut sendu
Menyulam asa cinta nan syahdu
Beribu nada kurangkai buatmu
Berjuta kata ku simpul untukmu

Oh Sayang...
Ingin rasanya bersandar di bahumu
Ingin rasanya rambut ini kau belai
dan kaupun berkata,,,

"Kau yang terindah sayang aku beruntung memilikimu"

Nona Marleni ^_^